Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is me and friends from Kebumen

Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka

This is me and friends at top of Sindoro mountain

terhampar dalam kelembutan nuansa sang awan berarak putih ....yang tertegun menatap bayang diriku di puncak gunung ini.....

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Vacation

yeah, we are happy :D

Rabu, 14 Desember 2011

Beradab Sejak Kecil Agar Dewasa Menjadi Kebiasaan

  -->
                 Pada suatu hari ada seorang bijaksanawan pergi bersama anaknya. Setelah beberapa saat, merekapun sampai di sebuah hutan yang penuh dengan pepohonan. Pohon-pohon itu marak dengan bunga yang berwarna-warni serta berbuah lebat. Di samping pepohonan itu terdapat sebatang pohon kecil di pinggir jalan. Pohon itu menjadi condong karena tiupan angin. Dan bagian ujungnya sampai menyentuh tanah. Maka berkatalah orang bijak itu kepada anaknya yang masih kecil:
                “Wahai anakku. Lihatlah pohon kecil yang miring itu. Pergilah dan tegakkanlah kembali seperti semula.”

                Pergilah anak itu dan ia mulai membenahi pohon yang miring itu sampai kembali seperti sedia kala. Setelah itu, mereka meneruskan lampahan mereka kembali. Tiba-tiba mereka menjumapi senatang pohon yang besar. Cabang dan dahannya banyak, namun bengkok-bengkok. Orang bijaksana tadi berkata lagi:
                “Wahai anakku, pandanglah pohon ini. Betapa berhajatnya ia kepada orang-orang yang mau memperbaikinya, sehingga ia bisa lurus kembali. Ia akan senang kalau ada orang yang sudi menghilangkan segala yang tidak baik darinya, sehingga orang akan merasa senang dan sedap memandangnya. Pergilah kau dan lakukan seperti yang kau perbuat pada pohon pertama tadi.”
                Mendengar perkataan ayahnya itu, si anak hanya tersenyum merasa kagum. Kemudian ia berkata:
                “Saya senang untuk memperbaikinya, namun pohon itu tidak mungkin lagi untuk diperbaiki apalagi diluruskan, sebab ia sudah terlalu besar dan kuat. Memang, ketika ia masih kecil ia masih mudah untuk diperbaiki dan diluruskan. Namun sekarang, ia tidak mungkin lagi untuk diperbaiki dan diluruskan walau sekelompok orang kuat berkumpul dan bersatu untuk melakukannya lagi”, jawab anak kecil itu.
                Mendengar jawaban anaknya, orang bijaksana tersebut merasa kagum. Ia kagum atas kecerdasan dan ketepatan jawaban yang diberikannya. Ia berkata lagi:
“Benar sekali apa yang kau katakan, anakku. Sesungguhnya orang yang sering melakukan sesuatu maka hal itu akan menjadi kebiasaan baginya. Untuk itu beradablah semenjak kecil. Hiasilah dirimu dengan budi-pekerti luhurbagar setelah dewasa menjadi kebiasaan bagi dirimu.”
Kemudian mereka pulang ke rumah. Dalam hatinya, si ayah mengulang-ngulang perkataan ini.
“Betapa mudahnya mendidik anak di waktu kecil dan betapa sukarnya mendidik anak di waktu dewasa.”
Akhirnya ia menyenandungkan bait-bait syair.
Mendidik anak di waktu kecil bermanfaat
Mendidik anak di waktu besar tak bermanfaat
Sesungguhnya ranting-ranting itu mudah diluruskan olehmu
Sedangkan kayu tiada mungkin kau lunakkan

Selasa, 06 Desember 2011

10 Ribu Rupiah Membuat Anda Mengerti Cara Bersyukur

Ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan.

Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, "Beri kami sedekah, Bu!"
Istri Budiman kemudian membuka dompetnya lalu ia menyodorkan selembar uang kertas berjumlah 1000 rupiah. Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Tatkala tahu jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan, ia lalu menguncupkan jari-jarinya mengarah ke mulutnya. Kemudian pengemis itu memegang kepala anaknya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang terkuncup itu ke mulutnya, seolah ia ingin berkata, "Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami
tambahan sedekah untuk bisa membeli makanan!"
Mendapati isyarat pengemis wanita itu, istri Budiman pun membalas isyarat dengan gerak tangannya seolah berkata, "Tidak... tidak, aku tidak akan menambahkan sedekah untukmu!"
Ironisnya meski tidak menambahkan sedekahnya, istri dan putrinya Budiman malah menuju ke sebuah gerobak gorengan untuk membeli cemilan. Pada kesempatan yang sama Budiman berjalan ke arah ATM center guna mengecek saldo rekeningnya. Saat itu memang tanggal gajian, karenanya Budiman ingin mengecek saldo rekening dia.
Di depan ATM, Ia masukkan kartu ke dalam mesin. Ia tekan langsung tombol INFORMASI SALDO. Sesaat kemudian muncul beberapa digit angka yang membuat Budiman menyunggingkan senyum kecil dari mulutnya. Ya, uang gajiannya sudah masuk ke dalam rekening.
Budiman menarik sejumlah uang dalam bilangan jutaan rupiah dari ATM. Pecahan ratusan ribu berwarna merah kini sudah menyesaki dompetnya. Lalu ada satu lembar uang berwarna merah juga, namun kali ini bernilai 10 ribu yang ia tarik dari dompet. Uang itu Kemudian ia lipat kecil untuk berbagi dengan wanita pengemis yang tadi meminta tambahan sedekah.
Saat sang wanita pengemis melihat nilai uang yang diterima, betapa girangnya dia. Ia pun berucap syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Budiman dengan kalimat-kalimat penuh kesungguhan: "Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah... Terima kasih tuan! Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk tuan dan keluarga. Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir dan batin untuk tuan dan keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shalehah. Semoga tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak nanti di surga...!"

Budiman tidak menyangka ia akan mendengar respon yang begitu mengharukan. Budiman mengira bahwa pengemis tadi hanya akan berucap terima kasih saja. Namun, apa yang diucapkan oleh wanita pengemis tadi sungguh membuat Budiman terpukau dan membisu. Apalagi tatkala sekali lagi ia dengar wanita itu berkata kepada putri kecilnya, "Dik, Alhamdulillah akhirnya kita bisa makan juga....!"
Deggg...!!! Hati Budiman tergedor dengan begitu kencang. Rupanya wanita tadi sungguh berharap tambahan sedekah agar ia dan putrinya bisa makan. Sejurus kemudian mata Budiman membuntuti kepergian mereka berdua yang berlari menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung tegal untuk makan di sana.
Budiman masih terdiam dan terpana di tempat itu. Hingga istri dan putrinya kembali lagi dan keduanya menyapa Budiman. Mata Budiman kini mulai berkaca-kaca dan istrinya pun mengetahui itu. "Ada apa Pak?" Istrinya bertanya.
Dengan suara yang agak berat dan terbata Budiman menjelaskan: "Aku baru saja menambahkan sedekah kepada wanita tadi sebanyak 10 ribu rupiah!"

Awalnya istri Budiman hampir tidak setuju tatkala Budiman mengatakan bahwa ia memberi tambahan sedekah kepada wanita pengemis. Namun Budiman kemudian melanjutkan kalimatnya:
"Bu..., aku memberi sedekah kepadanya sebanyak itu. Saat menerimanya, ia berucap hamdalah berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku, mendoakan dirimu, anak-anak dan keluarga kita. Panjaaaang sekali ia berdoa!
Dia hanya menerima karunia dari Allah Swt sebesar 10 ribu saja sudah sedemikian hebatnya bersyukur. Padahal aku sebelumnya melihat di ATM saat aku mengecek saldo dan ternyata di sana ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan ribuan kali lipat dari 10 ribu rupiah. Saat melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Aku terlupa bersyukur, dan aku lupa berucap hamdalah.
Bu..., aku malu kepada Allah! Dia terima hanya 10 ribu begitu bersyukurnya dia kepada Allah dan berterimakasih kepadaku. Kalau memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah, apakah dia yang menerima 10 ribu dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang menerima jumlah lebih banyak dari itu namun sedikitpun aku tak berucap hamdalah." 

Budiman mengakhiri kalimatnya dengan suara yang terbata-bata dan beberapa bulir air mata yang menetes. Istrinya pun menjadi lemas setelah menyadari betapa selama ini kurang bersyukur sebagai hamba. Ya Allah, ampunilah kami para hamba-Mu yang kerap lalai atas segala nikmat-Mu!
sumber: http://www.alhikmahonline.com/content/view/256/6/