Pages

Rabu, 14 Desember 2011

Beradab Sejak Kecil Agar Dewasa Menjadi Kebiasaan

  -->
                 Pada suatu hari ada seorang bijaksanawan pergi bersama anaknya. Setelah beberapa saat, merekapun sampai di sebuah hutan yang penuh dengan pepohonan. Pohon-pohon itu marak dengan bunga yang berwarna-warni serta berbuah lebat. Di samping pepohonan itu terdapat sebatang pohon kecil di pinggir jalan. Pohon itu menjadi condong karena tiupan angin. Dan bagian ujungnya sampai menyentuh tanah. Maka berkatalah orang bijak itu kepada anaknya yang masih kecil:
                “Wahai anakku. Lihatlah pohon kecil yang miring itu. Pergilah dan tegakkanlah kembali seperti semula.”

                Pergilah anak itu dan ia mulai membenahi pohon yang miring itu sampai kembali seperti sedia kala. Setelah itu, mereka meneruskan lampahan mereka kembali. Tiba-tiba mereka menjumapi senatang pohon yang besar. Cabang dan dahannya banyak, namun bengkok-bengkok. Orang bijaksana tadi berkata lagi:
                “Wahai anakku, pandanglah pohon ini. Betapa berhajatnya ia kepada orang-orang yang mau memperbaikinya, sehingga ia bisa lurus kembali. Ia akan senang kalau ada orang yang sudi menghilangkan segala yang tidak baik darinya, sehingga orang akan merasa senang dan sedap memandangnya. Pergilah kau dan lakukan seperti yang kau perbuat pada pohon pertama tadi.”
                Mendengar perkataan ayahnya itu, si anak hanya tersenyum merasa kagum. Kemudian ia berkata:
                “Saya senang untuk memperbaikinya, namun pohon itu tidak mungkin lagi untuk diperbaiki apalagi diluruskan, sebab ia sudah terlalu besar dan kuat. Memang, ketika ia masih kecil ia masih mudah untuk diperbaiki dan diluruskan. Namun sekarang, ia tidak mungkin lagi untuk diperbaiki dan diluruskan walau sekelompok orang kuat berkumpul dan bersatu untuk melakukannya lagi”, jawab anak kecil itu.
                Mendengar jawaban anaknya, orang bijaksana tersebut merasa kagum. Ia kagum atas kecerdasan dan ketepatan jawaban yang diberikannya. Ia berkata lagi:
“Benar sekali apa yang kau katakan, anakku. Sesungguhnya orang yang sering melakukan sesuatu maka hal itu akan menjadi kebiasaan baginya. Untuk itu beradablah semenjak kecil. Hiasilah dirimu dengan budi-pekerti luhurbagar setelah dewasa menjadi kebiasaan bagi dirimu.”
Kemudian mereka pulang ke rumah. Dalam hatinya, si ayah mengulang-ngulang perkataan ini.
“Betapa mudahnya mendidik anak di waktu kecil dan betapa sukarnya mendidik anak di waktu dewasa.”
Akhirnya ia menyenandungkan bait-bait syair.
Mendidik anak di waktu kecil bermanfaat
Mendidik anak di waktu besar tak bermanfaat
Sesungguhnya ranting-ranting itu mudah diluruskan olehmu
Sedangkan kayu tiada mungkin kau lunakkan

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar