Pages

Selasa, 09 Oktober 2012

Debat Cerdas


Siang yang terik itu, para mahasiswa mulai memasuki ruangan kelas BA. Mereka segera menempati kursi masing-masing. Di dalam kelas, mereka terlihat asyik mengobrol. Di pojok kelas, terdapat dua mahasiswa yang bernama Bima dan Ganda berdebat. Mereka berdebat mengenai mantan Presiden Habibi yang meninggalkan negara Indonesia dan pergi ke negara Jerman. Suasana memulai memanas ketika mereka terlihat saling mengotot dengan pendapatnya masing-masing.
            Bima    : “Presiden Habibi ke Jerman lagi karena sudah tidak betah di Indonesia. Para pejabat tinggi negara tidak menghargai dan menfhinanya.”
            Ganda   : “Tahu dari siapa? Itu berita tidak benar. Habibi ke Jerman lagi karena  ada tugas yang harus beliau selesaikan di sana.”
            Bima    : “Apa buktinya? Habibi hidup di Indonesia hanya dicaci-maki oleh rakyat Indonesia dan para pejabat pemerintahan. Itu sebabnya beliau tidak betah hidup di Indonesia. “
            Ganda   : “Jangan asal ngomong kamu. Kamu malah membuat berita baru yang tidak jelas asalnya.”
            Bima    : “Baiklah, Apa kamu butuh bukti? Kalau aku yang benar, apa kamu siap menerima tantangan dariku?”
            Ganda   : “Tantangan apa yang kamu mau berikan? Awas aja kalau aku yang benar kamu harus mencium ketua jurusan kita!”
            Bima    : “Baik. Baik. Kalau aku yang benar, kamu harus meminta tanda tangan semua dosen yang ada di jurusan kita!”
            Ganda   : “Oh, sialan kamu!”
            Ganda sudah hampir mencapai puncak emosi. Dia sudah tidak sabar lagi ingin menonjok muka Bima. Saat Ganda mulai mengayunkan tangannya ke muka Bima, tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka. Kreeeeek!
            Dosen   : “Selamat pagi, Saudara.”
            Segera semua mahasiswa menempati kursinya masing-masing tak terkecuali Ganda yang akan menonjok muka Bima. Kemudian dosen menjelaskan materi mengenai Matematika Bisnis. Beberapa waktu kemudian, Bima dan Ganda yang duduk bersebelahan paling belakang mulai berisik. Mereka melanjutkan perdebatannya lagi.
            Bima    : “Kamu ingat tantanganku itu? Aku akan membuktikannya kalau aku yang benar.”
            Ganda   : “Kalau begitu, kamu juga harus siap dengan sanksi yang aku berikan kepadamu kalau aku yang benar. Aku yakin sebentar lagi kamu pasti akan mencium ketua jurusan kita.”
            Bima    : “Oke fine. Siapkan pulpen dan buku buat minta tanda tangan semua dosen. Semoga saja dosennya pada sibuk. Hahahaha.”
Ganda mulai naik pitam. Dia akan mengepalkan tangan dan mengarahkannya ke muka Bima. Namun, sial saja bagi Ganda yang ketahuan akan melakukan aksinya. Dia terlihat ketakutan dan segera menurunkan tangan kanannya.
            Dosen   : “Ganda! Lepaskan tanganmu!” (katanya dengan lantang ke Ganda)
            Sontak seluruh penghuni ruangan itu kaget. Pandangan mereka tertuju kepada Bima dan Ganda yang ditegur dosen.
            Dosen   : “Kalian itu mahasiswa intelektual. Tidak begitu caranya kalian bersikap kepada temannya. Kalian harus bisa  saling menghargai satu sama lain. Jadikan perbedaan yang ada di antara kalian sebagai media untuk membentuk suatu hubungan yang harmonis satu sama lain. Kalian mengerti?”
            Ganda   : “Mengerti Pak. Maafkan saya. Tadi saya terbawa emosi. Untung saya belum menonjok muka Bima”
            Dosen   : “Kalau kalian mau berdebat mengenai sesuatu jangan sampai ada yang namanya perselisihan. Gunakan intelektual kalian. Berdebatlah untuk menjadikan kalian menjadi lebih dewasa”
            Bima dan Ganda : “Baik Pak”
            Suasana kembali tenang. Para mahasiswa kembali fokus pada pelajarannya. Dosen kemudian melanjutkan penjelasan mengenai materinya. Ganda meminta maaf kepada Bima atas kesalahannya. Kini, mereka mendapatkan pelajaran yang cukup berharga atas kejadian kecil yang mereka perbuat.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar