Pages

Jumat, 15 Februari 2013

Ketika Hari Segera Tiba dan Hati Saya Gundah

kisah hati yang mengganjal dalam keseharian di kejauhan dari mereka...

Liburan panjang saya bilangnya sudah habis. Ini tandanya berarti semua mahasiswa yang sudah jatuh tempo masuk harus kuliah seperti biasanya. Bertemu dengan teman-teman sejadwal dan teman baru. Saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi besok pada kuliah perdana semester 2. Yang pasti saya berharap akan mendapatkan kenyamanan saat belajar dan kenal dengan mereka semua.
Dibalik liburan yang telah usai ini, sebenarnya saya masih menyimpan satu hal yang belum terjadi. Ini saya anggap merupakan hal penting dalam hidup saya tetapi saya bukanlah tokohnya. Melainkan sebagai saudara yang seharusnya peduli. Yap. Saudara saya ada yang mau  nikah. Dia perempuan bukan saudara kandung saya. Hanya kedua Ibu kami bersaudara di mana Ibu saya adalah kakak dari Ibu saudara saya. Sedangkan hubungan saya dengan saudara saya tidak tahu. Maklumlah, dalam perihal keturunan yang turun temurun aku tidak begitu hafal. Nah, makanya saya balik ke Malang ini ada perasaan salah dan tentunya mengganjal hatiku. Saya terpaksa tidak bisa menghadiri hari pernikahannya pada hari Rabu besok. Yang saya pikirkan, mengapa liburannya tidak sampai tanggal 19 Februari seperti fakultas lain dan bahkan universitas lain? Saya juga heran, mengapa hari pernikahannya bukan pada waktu saya masih liburan? Ini siapa yang salah? aku tidak bisa menyalahkan semua orang. Tidak juga kepada mereka. Tetapi, aku lah yang merasa salah.
Saya harus memilih di antara dua pilihan. Dan ini sangat membingungkan. Keduanya sama-sama penting. Kondisi sekarang ini saya berada di Malang yang berarti saya tidak bisa hadir dalam pernikahan. Misalnya saya memutuskan untuk tetap berada di rumah, menghadiri pernikahan Saudara saya, maka saya harus membolos tiga hari kuliah. Tiga hari kuliah saya bolos, apa kata teman-teman saya. Saya tidak membayangkannya. Pasti mereka memikirkan saya juga. Kalau bolos tiga hari sangat sayang, bukan? Apalagi itu hari-hari awal kok sudah bolos. Jadi saya rasa ini keputusan yang tepat meskipun ada ganjalan dalam hati saya.
Saya sudah berada di Malang. Maka dari itu, saya harus melepaskan semua beban yang mengganjal hati saya. Buat apa jika kita memang tidak bisa mengahdirinya tetapi merasa penyesalan. Saya yakin pasti ada cara lain sebagai penggantinya. Dan saya juga sudah menemukannya. Saya bisa mengirim paket kado sebagai pernikahan mereka. Ya, ini memang pilihan yang tepat. Saya juga sudah merencanakan kado apa yang akan saya berikan. Ini rahasia.
“Selamat menikah untuk saudara saya. Semoga dengan pernikahan itu, kalian bisa menjadi keluarga yang mawaddah warrahmah, rezeki dilancarkan, dan selalu harmonis. Maaf saya tidak bisa menghadiri pernikahan kalian. Tetapi, saya bakal memberi suatu kado sebagai gantinya saya tidak bisa menghadiri pernikahan kalian.”
Murdiati & Yosep Ginanjar Yuswanto
Menikah hari Rabu, tanggal 13 Februari 2013

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar