Pages

Kamis, 04 Juli 2013

Mengubah Mindset Bertransportasi

opini tentang penghematan BBM


Apa moda transportasi paling efisien, efektif dan paling  ramah lingkungan itu sesungguhnya? Apakah motor? Apakah Bus? Atau Mobil? Mari bersama sama kita simak dan cermati beberapa bassic data comparison berikut:

Jika kita melihat dari sisi fuel consumption, tentu saja kita bisa menarik kesimpulan motorlah moda transportasi paling irit. Secara motorlah yang memiliki dimensi paling kecil dibandingkan mobil, bus dan kereta api. (INFOGRAPHIC 01)
13729242291535632031
INFOGRAPHIC 01 : Fuel Consumption
Kita lanjutkan, bagaimana jika kita mulai menggali dari sisi kapasitas/ daya angkut penumpang yang bisa diangkut   (INFOGRAPHIC 02 dan INFOGRAPHIC 03)
Berikut data perbandingan antar moda transportasi  dan tingkat efisiensi dari segi daya angkut serta dimensi:
1 rangakaian kereta api penumpang = kapasitas 1500 orang
1 mobil = kapasitas 3-4 orang
1 busway  gandeng = kapasitas 120 orang
Jadi,
1 rangkaian kereta penumpang =  setara dengan 300 mobil
1 busway = setara dengan  30 mobil
1 mobil = setara dengan 2-3 motor
1372924373598427393

INFOGRAPHIC 02 : Capacity
13729244861252582867

INFOGRAPHIC 03: Head to Head Comparison
Kemudian untuk memperdalam lagi, mari kita simak perbandingan dari sisi Efisiensi Bahan bakar per km per liter per orangnya. (INFOGRAPHIC 04) moda transportasi apakah yang paling efisien?
Berikut Data Perbandingan Efisiensi moda transportasi dari segi kebutuhan bahan bakar:

1 rangkaian kereta api : 30lt/km dengan kapasitas 1500 orang
Jadi, kebutuhan bahan bakarnya = 0.002 ltper orang per km
1 mobil : 1lt/ 15km dengan kapasitas 3-4 orang
Kebutuhan bahan bakar = 0.2 lt per orang per km
1 motor : 35km / lt dengan kapasitas 1-2 orang
Kebutuhan bahan bakar = 0.02 lt per orang per km jika berpenumpang 2 orang
1 unit bus: 3-5 km / liter dengan kapasitas 50-120 orang.
Kebutuhan bahan bakar =  0.0125 lt/km/orang
1372924622858349398

Infographic 04 : Energy Efficiency

KESIMPULAN

Jadi dari data yang telah kita simak di atas, kita bisa menarik kesimpulan jelas bahwa Kereta Api / moda transportasi berbasis rel-lah merupakan moda transportasi paling efisiien. Unggul dari segi efisiensi baik dari segi dimensi - kebutuhan ruang gerak maupun dari segi efisiensi konsumsi bahan bakarnya. LOUD and CLEAR.

Hal tersebut baru saat kita lihat dari sisi moda angkutan penumpang, tapi jika kita cermati lagi dari segi angkutan cargo/barang, lagi lagi kereta api menyandang gelar sebagai moda paling efisien. Mengapa? ini karena kapasitas yang bisa ditarik lokomotif itu sendiri begitu kontras jika hanya dibandingkan dengan 1 unit truck trailer. Beberapa jenis locomotive paling mutakhir bahkan memiliki tenaga lebih dari 3000 horsepower , sedangkan regular truck yang paling sering kita jumpai di jalan memiliki tenaga  150 -200 hp.

Dari sisi moda angkutan barang, secara garis besar jika kita bandingkan 1 rangkaian kereta ini bisa menggantikan 15-20 truk besar bergerak di jalanan. Hal tersebut berlaku jika kita menggunakan asumsi satu rangkaian ditarik satu locomotive. Bayangkan , jika ternyata locomotive ini masih bisa digandengkan dengan locomotive lainnya untuk menarik rangkaian yang lebih panjang lagi.

Jika kereta api dioptimalkan lagi, mari kita bayangkan berapa truck yang bisa digantikan peranannya? Berapa menit kemacetan yang bisa kita urai jika truck truck di jalanan sudah tergantikan dengan kereta api? (INFOGRAPHIC 05)
1372924710983533777

INFOGRAPHIC 05 : Train vs Truck

THANK’S FOR MENEER and KOMPENI
Disadari atau tidak, adalah peran besar Belanda dalam menghadirkan kereta api di Indonesia. Uniknya, sistem transportasi Massal berbasis rel ini sebenarnya sudah mulai dibangun oleh Belanda sejak era 1860. Di Tahun tersebut Belanda sudah menyadari sistem transportasi apa yang paling efisien dan cocok untuk Indonesia.

Dari kereta api darat reguler di Pulau Jawa dan Sumatera, hingga tram di Batavia dan Soerabaja.
Bahkan pada Tahun 1922 Belanda sudah mulai mempersiapkan  jalur Makasar - Takalar, sebagai langkah awal membangun jaringan rel trans Sulawesi.

Jika kita perharikan lagi seluruh jalur yang masih aktif di Pualu Jawa dan Sumatera pada hari ini merupakan buah karya Belanda. Jaringan rel di Indonesia sendiri jika diukur jarak jaringannya jauh lebih panjang dibanding yang telah terbangun di Negara Belanda/ Hollandia itu sendiri.

Apa yang terjadi setelah merdeka?
Di saat bangsa Eropa dengan bangga melestarikan tram yang sudah lama terbangun di kota kotanya, menyambungkan kembali jalur yang terputus karena Perang Dunia II.  Indonesia justru membongkar jaringan tram di Jakarta dan Surabaya. Menghentikan operasionalnya.

Di saat Thailand dan juga China yang terus melakukan penambahan serta memperluas jaringan rel. Thailand ingin menyambungkan jaringannya melalui Laos. Sedangkan China membangun jaringan rel menembus Tibet, melewati dataran tertinggi di dunia. Indonesia justru menutup beberapa relnya seperti Jogjakarta – Magelang – Ambarawa, Secang – Temanggung – Wonosobo, serta jaringan Banda Aceh – Medan.  Terlambat sudah, semua  jalurnya sudah benar benar hilang, besi relnya dijual dan lahan diatasnya dibangun toko, warung serta kaki lima.

Di saat para insinyur pesawat tempur Jepang yang secara hukum internasional tidak diperkenankan membuat pesawat militer lagi. Mereka memanfaatkan “tenaga dan pikiran” nya untuk mendesain Shinkansen – Kereta kecepatan tinggi pertama di dunia, dan sudah mulai aktif pada tahun 1964. Penduduk Jepang ini gemar menggunakan kereta api. Dari mulai Shinkansen, Subway, Tram, KRL semua jaringannya diciptakan di kota kota pentingnya. Kita bisa lihat suasana hiruk Kota Tokyo, di mana pada jam berangkat kerja petugas setasiun membantu mendorong kumpulan manusia agar bisa masuk secara aman di dalam kereta.  Orang Jepang sudah sadar betul fungsi serta betapa efisiennya sistem rel. Kita bangsa Indonesia justru tenggelam dan semakin dalam menggunakan mobil/motor produksi Jepang.

HIBURAN DI ERA KEMERDEKAAN
Dan seperti inilah kita pada hari ini. Saat Indonesia sudah hampir 70 tahun merdeka ini, dengan  9 tahun terakhir yang “katanya” pertumbuhan ekonominya sebagai salah satu terbaik di dunia. Kita sudah menghasilkan sesuatu kok! Ga percaya? Jika Ingin naik kereta layang, “the sound like monorail things” kita sudah punya. Silahkan pergi ke Taman Mini Indonesia Indah, ada di sana, kita bisa mencobanya. Ingin merasakan bagaimana rasanya naik Tram?Oh jangan kuatir, tentu saja ada. Silahkan naik tram di Epicentrum Rasuna Said Kuningan.
Marilah kita refleksikan bersama, what we have done this far, 70 Tahun Indonesia merdeka torehan sejarah apakah yang bisa kita wariskan kepada anak cucu kita? selama 70 tahun itu Indonesia sudah berbuat apa? selain double track, adakah 1m saja jaringan baru yang sudah dibangun?
Apa yang akan kita ceritakan kepada anak cucu kita ? Apakah kita akan membanggakan 2 hal ini? Tram di Epicentrum dan “monorail” di TMII?

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar