Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is me and friends from Kebumen

Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka

This is me and friends at top of Sindoro mountain

terhampar dalam kelembutan nuansa sang awan berarak putih ....yang tertegun menatap bayang diriku di puncak gunung ini.....

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Vacation

yeah, we are happy :D

Senin, 28 Desember 2015

ESSAY: PEMANFAATAN ANGKUTAN UMUM SEBAGAI MEDIA KAMPANYE BAHASA INDONESIA YANG UNIK, KREATIF, DAN PERSUASIF DALAM MENYEBARKAN NILAI SEMANGAT DAN CINTA BERBAHASA INDONESIA

PEMANFAATAN ANGKUTAN UMUM SEBAGAI MEDIA KAMPANYE BAHASA INDONESIA YANG UNIK, KREATIF, DAN PERSUASIF DALAM MENYEBARKAN NILAI SEMANGAT DAN CINTA BERBAHASA INDONESIA

Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional Negara Republik Indonesia, yang disahkan pada tanggal 28 oktober 1928 bertepatan dengan lahirnya sumpah pemuda. Bahasa Indonesia di lambangkan sebagai identitas nasional bangsa, yang dapat mengetahui identitas yaitu sifat, tingkah laku, dan watak seseorang sebagai bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia mengandung nilai-nilai sosial budaya yang luhur, dengan keluhuran nilai yang dicerminkan bangsa Indonesia ini kita harus bangga, memelihara, mengembangkan, menjunjung tinggi bahasa Indonesia dan mempertahankannya.
Bahasa Indonesia sudah tidak asing lagi di telinga rakyat Indonesia, karena dari kecil kita telah di ajari oleh orang tua menggunakan bahasa Indonesia agar memudahkan kita untuk berkomunikasi dan berinteraksi orang lain. Bahasa Indonesia mempunyai peran yang sangat penting bagi warga Negara Indonesia untuk berkomunikasi dan telah mempersatukan bangsa Indonesia yang memiliki beragam latar belakang sosial budaya dan bahasa yang berbeda-beda. Dengan bahasa Indonesia, memudahkan rakyat Indonesia untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesamanya, sehingga memunculkan keakraban antar sesama yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda.
Namun, banyak masyarakat yang tidak menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar  dalam kehidupan sehari-hari. Inilah salah satu faktor penghambat mengapa kecintaan berbahasa Indonesia semakin menurun dikalangan masyarakat. Jika masyarakatnya sendiri tidak menggunakan bahasa Indonesia, bagaimana orang lain dapat mengetahui bahasa persatuan ini. Masyarakat cenderung menggunakan bahasa daerah mereka, karena menurut mereka bahasa daerah adalah bahasa yang paling mudah untuk berkomunikasi, khususnya bagi mereka yang tinggal di daerah pedalaman. Saat menggunakan bahasa Indonesia, banyak orang yang mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing. Penggunaan bahasa ini banyak dijumpai di kalangan remaja.
Masyarakat, khususnya, remaja sangat fasih menggunakan bahasa gaul. Kehadiran bahasa gaul berjalan beriringan dengan konsep kebudayaan populer di Indonesia atau masuknya budaya-budaya asing yang kurang disaring oleh masyarakat. Masyarakat daerah di Indonesia pun masih banyak yang menggunakan bahasa daerah mereka masing-masing. Hal ini menyebabkan jika ada yang berbicara dengan bahasa Indonesia, mereka kurang memahami maksud yang dibicarakan.
Selain itu, kesadaran penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar juga sudah mulai menurun dan disepelekan. Jika dilihat di tempat umum dan di media massa, seperti radio dan televisi, kebanyakan rakyat dan para pejabat, dalam kesehariannya, lebih suka memadukan bahasa Indonesia dengan bahasa asing ketika berkomunikasi. Misalnya, lebih senang menggunakan “Sorry ya, aku telat” dibandingkan dengan “Maaf ya, aku terlambat”. Dari kedua ujaran tersebut, tentu yang lebih sering digunakan adalah ujaran pertama. Sadar atau tidak, dengan mencampuradukkan bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia, hal itu tidak boleh dilakukan. Lunturnya kesadaran masyarakat dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, bukan hal yang tidak mungkin. Jika terus menerus dibiarkan bahasa Indonesia dicampuradukkan dengan bahasa asing akan berakibat di masa mendatang, generasi penerus bangsa tidak lagi mengetahui bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Sehubungan dengan semakin maraknya penggunaan bahasa Indonesia yang tidak baik yang digunakan oleh sebagian masyarakat modern, terutama kaum remaja, perlu adanya tindakan dari semua pihak yang peduli terhadap eksistensi bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa pengantar dalam dunia pendidikan. Yang terpenting adalah kesadaran dari masyarakat terutama kaum remaja untuk menjunjung tinggi bahasa Indonesia.
Dari banyak permasalahan diatas, perlulah dari kita untuk mengupayakan sebuah solusi yang tepat untuk menumbuhkan rasa kecintaan dan nilai semangat dalam berbahasa Indonesia. Penulis merekomendasikan sebuah solusi untuk menumbuhkan rasa kecintaan dan nilai semangat dalam berbahasa Indonesia dengan cara melakukan kampanye bahasa Indonesia melalui media luar ruang. Media luar ruang ini, penulis secara khsusus merujuk kepada angkutan umum. Kampanye ini diharapkan dapat membantu peran dan fungsi Badan Bahasa dalam rangka pemasyarakatan penggunaan bahasa Indonesia dikalangan masyarakat secara luas.
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perhubungan Darat tahun 2006, jumlah angkutan umum dari bus dan trayek untuk di daerah Jabodetabek berjumlah 60.144 buah. Untuk di Jawa Timur sendiri jumlahnya mencapai 29.451 buah. dan secara khusus, jumlah angkutan umum di kota Malang mencapai 3.140 buah.
Ditambah lagi dengan jumlah penduduk Indonesia menyentuh 237.641.326 jiwa pada tahun 2012 berdasarkan data sensus kependudukan. Dengan jumlah yang sangat fantatis tersebut, angkutan umum di Indonesia bisa menjadi sarana kampanye alternatif bahasa Indonesia yang efektif untuk menumbuhkan rasa kecintaan dan nilai semangat dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar yang bisa menjangkau semua orang.
Selama ini angkutan umum di Indonesia kebanyakan hanya bergambar polosan yang memiliki satu atau beberapa kombinasi warna dasar tanpa ada gambar-gambar yang cantik. Walaupun ada yang bergambar menarik, biasanya hanya tulisan yang kurang baik. Sebagai contoh, bus sedang yang beroperasi di daerah Wonosobo Jawa Tengah banyak menggunakan tulisan-tulisan huruf Cina yang tidak dipahami penumpang atau orang lain yang melihatnya. Contoh lain, angkutan umum di kota Malang yang hanya berwarna biru polosan dan bertuliskan arah jalur angkutan tersebut. Sehingga, penulis mengusulkan untuk memberikan ide kretif berupa kampanye bahasa Indonesia melalui angkutan umum dengan cara memberikan gambar, tulisan, slogan,  atau ajakan yang menarik untuk mengkampanyekan berbahasa Indonesia yang baik dan benar kepada publik. Bisa kita bayangkan jika kita melihat angkutan umum yang lewat di berbagai daerah dan kota yang berisikan gambar, tulisan, slogan,  atau ajakan yang menarik akan mampu menarik perhatian publik dan mencerna kampanye tersebut sehingga bisa memberikan sugesti kepada publik untuk menerima pesan tersebut dan akhirnya mulai menyadarinya betapa pentingnya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar terutama dalam kehidupan sehari-hari. Jika kampanye ini berhasil diterapkan, maka penulis meyakini bahwa orang yang melihat kampanye tersebut akan mulai tumbuh rasa kecintaan dan nilai semangat dalam berbahasa Indonesia. Orang yang melihat kampanye tersebut juga akan mengajak teman atau kerabatnya untuk menyadari penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sehingga bisa meningkatkan rasa kecintaan dan semangat berbahasa Indonesia.
Untuk mengimplementasikan program kampanye ini bisa dilakukan kerja sama antara penggagas ide, pemerintah, dan pemilik angkutan umum. Sinergi peran ini bisa secara efektif untuk mewujdukan program tersebut karena ada pemerintah yang akan memberikan biaya pelaksanaan dan kerja sama dengan pemilik angkutan umum. Program kampanye ini juga bisa sekaligus membantu pemerintah khususnya bagian balai bahasa untuk membantu masyarakat Indonesia menumbuhkan raa bangga dan kecintaan terhadap bangsa Indonesia.
Pada akhirnya, Indonesia yang memiliki jumlah penduduk yang sangat banyak memiliki permasalahan yang krusial terhadap bahasa Indonesia yang mulai pudar dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Masyarakat Indonesia lebih menyukai bahasa gaul yang tidak baku dan menekuni bahasa asing secara berlebihan yang mengakibatkan turunnya rasa kecintaan dan semangat berbahasa Indonesia. Oleh karena itu, dengan hadirnya program kampanye melalui media luar ruang khususnya di angkutan umum diharapkan dapat mengatasi permasalahan tersebut. Program kampanye bahasa Indonesia ini berisikan gambar, tulisan, slogan, atau ajakan yang menarik mampu menumbuhkan nilai semangat dan cinta berbahasa Indonesia yang baik dan benar di kalangan masyarakat. Bisa dibayangkan ketika kita melihat angkutan umum yang berisikan slogan atau ajakan untuk berbahasa Indonesia, kita bisa merasakan kebanggan tersendiri dan tergerak untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai konteks.



@sukrisw

Senin, 23 November 2015

Travelling with Many Experiences

Salah satu hobi saya adalah travelling. Beberapa kota yang pernah saya kunjungi adalah Jakarta, Bekasi, Depok, Bogor, Purwokerto, Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Bogor, Kendari, Klaten, Purworejo, Malang, Lumajang, Kediri, dan Makassar. Dari beberapa kunjungan ke kota-kota tersebut ada banyak perbedaan. Salah satu perbedaan yang sangat mencolok adalah segi ekonomi dan budaya. Dari sisi ekonomi, tentunya daerah di Jabodetabek lebih maju. Pada tahun 2012 yang lalu, saya pernah mengunjungi rumah teman saya di sekitar Duri Jakarta Pusat. Daerah Duri merupakan salah satu kawasan padat dan kumuh. Banyak masyarakatnya bekerja sebagai buruh dan pedagang. Bahkan banyak pula yang berjualan di pinggir rel kereta api. Padahal lokasi tersebut cukup berbahaya, tetapi apa daya karena bagi mereka ada beban yang ahrus dipikul yaitu memenuhi kebutuhan keluarga. Selain itu, lokasinya snagat kumuh. Banyak got kotor dan hitam serta tida mengalir di kawasan tersebut. Dengan bau yang menyengat, mereka seolah sudah terbiasa dengan kondisi tersebut. Saya yang mengunjungi daerah tersebut, berpikir apa jadinya jika saya yang tinggal di daerah tersebut. Dan daerah tersebut merupakan daerah satu-satunya. Salah satu hal yang terlintas adalah tetap bertahan walau memang banyak kesulitan datang. Sehingga, dengan lokasi yang sedemikian rupa tersebut, tentu akan membentuk budaya masyarakat yang keras dan bebas. Kehidupan keras di Jakarta yang harus mengais rejeki pun mereka harus terjang. Banyak pendatang yang justru dari luar Jakarta sehingga budaya lokal dari Jakarta sendiri mulai luntur.

Di kota lain, yakni Makassar, saya menemukan beberapa fenomena tentang kondisi masyarakat. Pada waktu itu, saya bersama rekan saya menyempatkan untuk mampir ke salah satu warung makan sekadar untuk melepas panasnya kota Makassar. Di tempat warung tersebut, saya menemui bahwa penjual merupakan orang asli Makassar yang bersuku Bugis. Selain itu, saya juga mengobrol dengan salah satu pria tua yang diketahuinya berprofesi sebagai sopir taksi. Dari perbincangan ini, saya menemukan bahwa di Makassar pun banyak orang pendatang dari luar Sulawesi terutama. Pria tua ini justru berasal dari Jawa Timur dan merantau dengan keluarganya di Makassar. Mereka yang merupakan orang Jawa juga sudah bisa berbahasa Sulawesi yang saya sendiri masih asing mendengarnya. Disini kita bisa tahu bahwa dengan kita tinggal lebih lama di suatu tempat, maka kita akan mampu beradaptasi dengan kebudayaan yang ada di daerah tersebut.
Dari sisi ekonomi ini, rejeki bisa didapatkan di mana saja, tinggal kita yang berusaha untuk mendapatkannya. Dengan kondisi siang hari yang sangat panas, saya membeli es teh. Lalu saya minum, benar-benar melegakan dahaga yang sangat panas. Sembari menyerubut es teh, saya juga bermain catur dengan orang Makassar tersebut. Dengan bermain ini, kami saling berbagi cerita tentang kehidupan. Permainan catur ini berakhir dengan kekalahan.

Kita beralih ke kota Kendari. Kota Kendari ini merupakan ibukota provinsi Sulawesi Tenggara. Kendari ini memiliki daerah yang panas dan berdebu. Kondisi ini terjadi pada musim kemarau, jika pada musim hujan, maka Kota Kendari akan berubah menjadi kota yang becek dan lembab. Kunjungan saya di Kendari selama seminggu ini, menuai banyak pengalaman yang bisa didapatkan. Ternyata bahwa dari sektor pariwisata, Kendari memiliki destinasi wisata yang sangat menarik. Dari sisi ekonomi, banyak masyarakat bekerja sebagai nelayan di pesisir, pedagang, dan petani. Jumlah penduduknya tidaj seberapa banyak. Namun, ketika kita melihat secara sekilas di Kendari, kota ini ternyata menyimpan kemakmuran tersendiri. Banyak pembangunan yang sedang berlangsung pada waktu itu berupa jalan raya, perhotelan, gedung pertemuan, mal, dan gedung-gedung lain yang dijadikan sebagai penunjang di kota ini. Kota Kendari memiliki mayoritas suku Tolaki dan Konawe. Kedua suku ini hidup berdampingan. Namun, pada saat saya sedang berada di sana mendengar sebuah cerita bahwa pernah terjadi pertikaian antara suku Tolaki dan Konawe. Pertikaian ini terjadi diawali dari kampus Universitas Halu Oleo karena perbedaan permahaman. Karena faktor ini, suku Tolaki lebih banyak mendapatkan ancaman pembunuhan dengan clurit. Sehingga, bagi suku Tolaki harus menyimpan kesukuan mereka dan rahasia yang mereka miliki pada waktu itu untuk menghindari pembunuhan yang suku Konawe lakukan. Mendengar kejadian ini, ternyata pertikaian antarsuku masih sering terjadi. Padahal mereka hidup berdampingan untuk bersama-sama menjalani kehidupan masing-masing. Dari kejadian ini, perlulah setiap suku harus menanamkan rasa menghargai dan menghormati satu sama lain. Bukankan akan lebih indah jika banyak suku dapat hidup berdampingan damai?

Jadi, secara umum dari kota-kota yang pernah saya kunjungi, memiliki beberapa pembelajaran yang terkandung. Pembelajaran ini tentunya didapat dari saya yang mengunjungi daerah tersebut. Memang pengalaman yang seperti ini sangatlah berharga, karena kita dapat mengetahui secara langsung kondisi masyarakat di luar daerah kita dari banyak segi bisa dari sisi pendidikan, ekonomi, budaya, dan lain sebagainya. Pengalaman ini bisa menjadi bukti bahwa keragaman Indonesia memang benar adanya. Keragaman inilah yang harus kita syukuri bahwa Indonesia memiliki keragaman dan ratusan kebudayaan. Ada ratusan bahasa dan suku. Ada ribuan tujuan wisata yang menarik. Maka, marilah kita sebagai pemuda Indonesia harus membuka mata kita. Dan terus maju, karena hidup adalah petualang yang harus kita hadapi dengan penuh pembelajaran. 

 @sukrisw

Rabu, 11 November 2015

Potret Pendidikan Indonesia Terkini

Potret Pendidikan Indonesia Terkini 
Optimis, Pendidikan Indonesia bisa lebih baik!

Pendidikan merupakan kunci utama bagi bangsa yang ingin maju dan unggul dalam persaingan global. Pendidikan adalah tugas negara yang paling penting dan sangat strategis. Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan prasyarat dasar bagi terbentuknya peradaban yang lebih baik dan sebaliknya, sumber daya manusia yang buruk akan menghasilkan peradaban yang buruk. Melihat realitas pendidikan di Inodnesia masih banyak masalah dan harapan menjadi sulit dicapai.
Masalah pendidikan di Indonesia ibarat enang kusut. Banyak permasalahan yang terjadi di dalam pendidikan Indonesia bukan hanya sistem pendidikannya tetapi pelaku yang ada didalamnya. Lihat saja, banyak pelanggaran yang terjadi seperti banyak pelajar melakukan tawuran, narkoba, free sex, bahkan ada oknum guru yang harus jadi panutan melakukan pelanggaran yaitu membiarkan kecurangan yang terjadi saat UN dengan alasan agar para siswanya lulus 100%. Sungguh, ini merupkan keadaan yang sangat ironis. 

Mirisnya lagi yang bisa mengenyam pendidikan kebanyakan orang-orang golongan atas, yang memiliki uang lebih dan sementara orang-orang dari golongan bawah hanya bisa diam dan tak tahu harus berbuat apa. Lihatlah pada realitanya banyak calon calon generasi penerus bangsa tidak bersekolah dan alasannya terkait biaya pendidikan terlalu mahal. Akibat kondisi seperti ini, terjadi pengganguran dimana-mana, kriminalitas menjadi hal yang utama menjadi pekerjaan mereka, kemiskinan pun menjadi lingkaran setan yang sulit diputuskan. Beginalah realita bangsa Indonesia. 

Pendidikan memang sangat penting yang dijadikan sebagai salah satu alat untuk menyiapkan generasi penerus bangsa yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan Indonesia. Untuk mewujudkan harapan tersebut, maka Indoensia harus segera dengan cepat membenahi diri menjamin pendidikan yang berkualitas dan bisa dijangkau oleh semua kalangan.  

Memang ketika kita melihat segudang permasalahan pendidikan Indonesia, akan tetapi ada secuil cahaya harapan untuk mewujudkan pendidikan Indonesia yang lebih merata dan lebih baik. Masih banyak orang yang peduli dengan pendidikan, mereka bisa melakukan program pengabdian masyarakat dibidang pendidikan untuk masyarakat yang tertinggal. Masih banyak lembaga dan yayasan menampung orang-orang yang tidak mampu untuk mengenyam pendidikan sehingga mereka akan mampu memiliki pola pikir yang maju. Kita sebagai generasi penerus tidak boleh pesimis akan buruknya pendidikan Indonesia kini, karena masih ada harapan yang bisa kita ambil untuk mengubahnya. Jadilah generasi penerus yang optimis, karena nantinya kitalah yang akan memperbaiki dan memajukan pendidikan di Indonesia. Impian adalah harapan kita semua. Pendidikan Indonesia lebih merata dan maju. Pendidikan itu adalah yang mampu menyiapkan generasi penerus untuk memilki akhlak dan moral yang baik. Selain itu, ditunjang dengan nilai nasionalisme dan religiusitas. Generasi penerus yang akan menjadi pemimpin Indonesia selanjutnya.  

Optimislah karena masih ada secuil harapan yang bisa kita raih. 


@sukrisw

Selasa, 10 November 2015

Mahasiswa UB Juara 2 GAMA SEC UGM YOGYAKARTA

Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) berhasil menjadi juara 2 dalam kompetisi Gadjah Mada Social Entrepreneur Challenge (GAMA SEC) 2015. Kompetisi tingkat nasional ini diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM KM UGM) selama dua hari (1-2/11/2015) di Yogyakarta.

Tim UB berhasil menjadi juara 2 dalam kompetisi ini dengan judul karyanya, "Pengembangan Masyarakat Dusun Tamban Malang Berbasis Kewirausahaan Untuk Mewujudkan Desa yang Berkelanjutan Dalam Menghadapi Asean Economy Community". Tim UB terdiri dari Sukur Riswanto (Jurusan Manajemen FEB 2012 sebagai ketua delegasi), Sutrisno (Teknik Informatika FILKOM 2014), dan Eka Nur Laeli (Sastra Inggris FIB 2012).

Kompetisi diikuti oleh 6 tim terbaik yang terpilih setelah dilakukan seleksi proposal. Keenam tim tersebut adalah ITS, dua tim dari UGM, UB, dan Universitas Negeri Makassar. Juara 1 kompetisi ini yakni  Universitas Airlangga dengan judul karyanya, "Jawa Painting (Jati Waste Painting) Innovation Waste for Innovation Art". Sedangkan juara 3 dari ITS  dengan judul karya Wetland Furniture: Produk Lemari Ramah Lingkungan Berbahan Enceng Gondok Sebagai Lahan Bisnis Yang Prospektif Bagi Warga Pra-Sejahtera Di Desa Bandung Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto.
Atas prestasinya tersebut, tim UB berhak mendapatkan hadiah berupa uang pembinaan serta trofi GAMA SEC yang diumumkan dalam acara Leadership Talk di Graha Sabha Pramana UGM Yogyakarta.

Kompetisi GAMA SEC 2015 bertujuan agar kompetisi nasional ini dapat dimaknai tidak hanya sebagai kompetisi belaka. Namun sebuah ajang untuk memperdalam arti sebuah kegiatan social entrepreneurhsip. Di mana definisi social entrepreneurship sendiri merupakan bisnis yang tidak hanya memikirkan keuntungan untuk pengusaha itu sendiri, melainkan dapat memberi nilai lebih kepada masyarakat sekitar dengan memberdayakannya dan masyarakat tersebut mendapat keuntungan pula. Kata memberdayakan diartikan dari yang tidak berdaya, menjadi berdaya. Ini merupakan bisnis yang win-win solution

Rabu, 28 Oktober 2015

Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2015

Peringatan Sumpah Pemuda tidak hanya sebagai acara tahunan, namun sebagai refleksi bagi Pemuda Indonesia agar terus menjaga sumpah yang telah digaungkan pada 28 Oktober 1928.

1. Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, TANAH AIR INDONESIA

2. Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, BANGSA INDONESIA

3. Kami poetra dan poetri Indonesia, menjoenjoeng tinggi bahasa persatoean, BAHASA INDONESIA


#‎IkrarSoempahPemoeda1928‬
‪#‎28Oktober2015‬



Senin, 17 Agustus 2015

Dirgahayu Republik Indonesia ke-70


Pemuda memang agen perubahan yang nyata sebagai salah satu bentuk mewujudkan kemajuan bagi bangsa Indonesia. Momentum ini bisa menjadikan pemuda untuk berkarya dan mengabdi bagi bangsa Indonesia sesuai dengan latar belakang masing-masing. Satu, bersama pemuda, mari kita bangkitkan Indonesia untuk menjadi negara yang berdikari untuk kemakmuran dan kesejahteraan bersama. 17-08-2015. 

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-70

 Indonesia merdeka bukan tujuan akhir kita. Indonesia merdeka hanya syarat untuk bisa mencapai kebahagiaan dan kemakmuran rakyat. 
(Bung Hatta) 




Kamis, 13 Agustus 2015

Makalah Kebahasaan: PENINGKATAN RASA CINTA DAN KEBANGGAAN BAGI PARA PEMUDA DALAM MEWUJUDKAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA ASEAN

PENINGKATAN RASA CINTA DAN KEBANGGAAN BAGI PARA PEMUDA DALAM MEWUJUDKAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA ASEAN

PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara yang sangat potensial. Geopolitik Indonesia yang strategis, ditambah lagi dengan sumber daya alam dan sumber daya amnesia yang berlimpah menjadikan Indonesia sebagai pasar strategis untuk dikelola. Hal ini tentunya berimbas pada alat komunikasi yang digunakan sehari-hari yakni bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa ini di masa kini tidak hanya dipelajari oleh orang Indonesia, namun juga oleh orang asing yang tertarik dengan potensi yang dimiliki Indonesia.
Di skop yang lebih kecil yakni kawasan Asia Tenggara, Indonesia juga termasuk negara anggota yang mempunyai banyak potensi. Arus perdagangan dan investasi di kawasan ASEAN berdatangan dari negar-negara maju. Menjelang era Komunitas ASEAN 2015, dimana negara-negara di kawasan Asia Tenggara akan berbaur menjadi masyarakat ASEAN.
Tentunya dibutuhkan prasyarat yang perlu dipersiapkan sebelum melakukan integrasi salah satunya dari aspek kebahasaan. Bahasa sebagai alat komunikasi memegang peranan penting dalam proses integrasi. Melalui bahasa, seseorang dapat mengerti maksud dan tujuan yang ingin dibicarakan. Hal ini dapat mengurangi kesalahan dalam berkomunikasi, serta mempererat rasa kepemilikan satu sama lain.
Pertanyaan yang terlintas adalah apakah dengan hadirnya Komunitas ASEAN 2015 para pemuda Indonesia semakin mencintai bangsa Indonesia terutama melalui bahasa Indonesia? Tentunya pertanyaan ini tidak hanya sekadar dijawab tanpa melakukan telaah lebih lanjut terhadap upaya peningkatan rasa cinta dan kebanggaan akan berbahasa Indonesia. Lebih lanjut dalam makalah ini akan dibahas mengenai bagaimana dukungan pemuda dalam mewujudkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ASEAN menuju ASEAN COMMUNITY 2015 yang sudah semakin dekat. Selain itu, juga akan dijelaskan tentang peluang dan tantangan bahasa Indonesia sebagai bahasa ASEAN menuju Komunitas ASEAN 2015. Kajian ini sangat menarik mengingat Indonesia memiliki kekuatan dan potensi yang luar biasa. Kemudian dari aspek politik bahasa, Indonesia memiliki latar belakang historis terhadap bahasa Indonesia yang merupakan bahasa persatuan yang tentunya dapat memberikan inspirasi agar menjadi momentum awal bagi persatuan Komunitas ASEAN 2015.


BAHASA SEBAGAI ALAT PEMERSATU MENUJU KOMUNITAS ASEAN 2015
Peristiwa sumpah pemuda 1928 bahasa Indonesia telah mengukuhkan kehadiran bahasa Indonesia sebagai bahasa yang demokratis, yang tidak mencerminkan status stratifikasi sosial pemakainya. Oleh karena itu bahasa Indonesia dapat diterima dan dengan mudah dipelajari oleh generasi muda bangsa dari seluruh kelompok etnik yang juga memiliki bahasa daerah yang beranekaragam. Di dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai (1) lambang kebangaan nasional, (2) lambang identitas nasional, (3) alat pemersatu berbagai kelompok etnik yang berbeda latar belakang sosial budaya dan bahasanya, dan (4) alat perhubungan antarbudaya serta antardaerah.
Selain berkedudukan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia juga berkedudukan sebagai bahasa negara, sesuai dengan ketentuan yang tertera di dalam Undang-Undang Dasar 1945, Bab XV, Pasal 36: Bahasa negara ialah bahasa Indonesia. Di dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai (1) bahasa resmi kenegaraan, (2) bahasa pengantar resmi di lembaga pendidikan, (3) bahasa resmi di dalam perhubungan dalam tingkat nasional, (4) bahasa resmi untuk pengembangan kebudayaan nasional, (5) sarana pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, (6) bahasa media massa, (7) pendukung sastra Indonesia, dan (8) pemerkaya bahasa dan sastra daerah. (Alwi dan Sugono, 2011b:5)
Menjelang integrasi Komunitas ASEAN 2015 seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) mulai berbenah diri dan mempersiapkan berbagai macam strategi guna menghadapi momentum ini. Perlu diketahui bahwa saat ini seluruh negara anggota ASEAN yang terdiri atas Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Viet Nam telah mempersiapkan sektor-sektor potensil negaranya agar mampu bersaing dan unggul dari negara anggota lainnya. Seyogyanya para ahli kebahasaan turut berkontribusi dalam menyongsong Komunitas ASEAN, salah satu upaya yang dapat dilakukan dengan merumuskan bahasa ASEAN. Saat ini bahasa yang digunakan sebagai bahasa pergaulan dalam forum pertemuan ASEAN masih menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, padahal beberapa negara anggota ASEAN memiliki kesamaan bahasa yakni bahasa Melayu yang merupakan asal mula bahasa Indonesia. Mengacu pada kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan melalui momentum integrasi komunitas ASEAN 2015, Indonesia harus tampil di depan sebagai pionir bagi perumusan bahasa ASEAN, salah satu usulan konkrit yakni menjadikan bahasa Indonesia sebagai embrio bagi bahasa ASEAN. Diharapkan dengan hadirnya bahasa ASEAN dapat menjadi alat pemersatu bagi Komunitas ASEAN sebagaimana keberadaan bahasa Indonesia saat peristiwa sumpah pemuda 1928.

PELUANG DAN TANTANGAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA ASEAN
Indonesia pada dasarnya memiliki kekuatan untuk melakukan diplomasi kebahasaan, didukung 9 unsur kekuatan nasional yang beberapa diantaranya merupakan keunggulan Indonesia. Di tambah lagi dengan pengalaman Indonesia dalam menjadikan bahasa sebagai alat pemersatu digambarkan dalam peristiwa sumpah pemuda 1928. Melalui pembahasan ini akan dikaji lebih lanjut terkait peluang dan tantangan yang dihadapi Indonesia untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai embrio bahasa ASEAN.
Forum "Roundtable Conference Indonesia-Malaysia" merekomendasikan penggunaan Bahasa Indonesia-Malaysia sebagai bahasa resmi di lingkungan Perhimpunan Bangsa di Asia Tenggara (ASEAN). Hal tersebut disampaikan oleh Mantan Dubes Indonesia untuk Kamboja, Nazaruddin Nasution pada 28 Juli 2011. Ia menambahkan bahwa pihak-pihak terkait dalam forum ini akan menyampaikan rekomendasi tersebut dan berharap para kepala negara dan kepala pemerintahan anggota ASEAN dapat menyetujuinya dalam konferensi tingkat tinggi mereka nanti. (Republika Online, 2011)
Pewacanaan bahasa Indonesia sebagai bahasa ASEAN pada KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) ASEAN ke-18 dan 19 pada 4-8 Mei 2011 di Jakarta dan 17-19 November 2011 di Bali rupanya tidak masuk ke dalam prioritas pembahasan. Indikasinya karena tidak ada keputusan yang menyinggung hal ini. Namun demikian, pada konferensi pers pada KTT ASEAN ke-18 di Jakarta Presiden SBY dengan bangga menggunakan bahasa Indonesia, termasuk saat menjawab pertanyaan dari wartawan asing. (detikNews, 2011) Penggambaran ini patut dilihat sebagai salah satu itikad politik presiden untuk mempromosikan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang dapat digunakan pada forum pertemuan ASEAN.
Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri Andri Hadi mengemukakan ketika tampil pada pleno Kongres IX Bahasa Indonesia, yang membahas Bahasa Indonesia sebagai Media Diplomasi dalam Membangun Citra Indonesia di Dunia Internasional, Rabu (29/10) di Jakarta.
Saat ini ada 45 negara yang ada mengajarkan bahasa Indonesia, seperti Australia, Amerika, Kanada, Vietnam, dan banyak negara lainnya. Mengambil contoh Australia, Andri Hadi menjelaskan, di Australia bahasa Indonesia menjadi bahasa populer keempat. Ada sekitar 500 sekolah mengajarkan bahasa Indonesia. Bahkan, anak-anak kelas 6 sekolah dasar ada yang bisa berbahasa Indonesia. 
Kesiapan bahasa menjadi bahasa Internasional yang digunakan banyak negara bergantung pada seberapa besar ketergantungan terhadap bahasa tersebut dalam berbagai aspek, seperti ekonomi, sosial, dan budaya. Seberapa besar peran bahasa Indonesia dalam kegiatan perekonomian dunia Misalnya menggunakan bahasa Indonesia lebih memudahkan kegiatan perekonomian. Sehingga jika ketergantungan terhadap penggunaan bahasa Indonesia lemah maka maka sulit menjaikan bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional.
Tantangan yang harus dihadapi memang tidaklah mudah. Seperti kesetiaan terhadap bahasa Indonesia. Jika kita melihat fakta yang terdapat di lapangan. Kesetiaan penutur bahasa Indonesia semakin lama semakin menipis apalagi di era globalisasi ini. Orang lebih suka menggunakan bahasa asing daripada menggunakan bahasa Indonesia. Rasa bangga menggunakan bahasa Indonesia pun meluntur. Pada beberapa hal, kita temui orang lebih suka menggunakan kalimat bahasa Inggris. Misalnya saja, seperti yang pernah terjadi di lingkungan universitas. Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia mengadakan sebuah acara yang mereka beri tajuk “Tribute to Rendra”. Para mahasiswa ini lebih memilih kata ‘tribute’ daripada kata ‘mempersembahkan’. Contoh ini hanyalah satu satu dari sekian fakta bahwa penutur bahasa Indonesia lebih suka menggunakan istilah Inggris daripada menggunakan istilah yang ada dalam bahasa Indonesia.
Tantangan lain yang juga datang dari negara yang bukan penutur bahasa Melayu maupun bahasa Indonesia seperti Filipina, Kamboja, Thailand, Laos, dan Myanmar. Negara yang menyatakan keberatan secara langsung barulah Filipina. Hal yang perlu diperhatikan adalah prinsip-prinsip pada Piagam ASEAN. Salah satunya yakni, "menghormati prinsip-prinsip teritorial, kedaulatan integritas, tidak interverensi dan identitas nasional anggota ASEAN". Dikarenakan bahasa merupakan identitas nasional bagi suatu bangsa, termasuk Indonesia, dan negara anggota ASEAN lainnya. Maka cara-cara yang digunakan untuk mendorong agar disepakatinya bahasa ASEAN haruslah menggunakan pendekatan yang lunak agar negara anggota ASEAN selain penutur bahasa Melayu maupun bahasa Indonesia mendapatkan pengertian yang memadai.

SIKAP PEMUDA DALAM MENINGKATKAN RASA CINTA DAN KEBANGGAN AKAN BAHASA INDONESIA
Pemuda merupakan generasi penerus bangsa yang harus terus dipupuk rasa nasionalisme. Hal ini sangat perlu ditanamkan mengingatkan bahwa keberlanjutan bangsa Indonesia ke depannya juga dipegang oleh pemuda saat ini. Salah satu upaya yang sangat penting yaitu memupuk rasa cinta dan kebanggaan berbahasa Indonesia sebagai upaya perwujudan menjadi bahasa ASEAN. Akan tetapi, banyak fenomena pemuda masih banyak menggunakan campuran bahasa. Bahkan Joko Widodo sebagai presiden Indonesia pernah menyatakan, “Bahasa Indonesia yang indah itu dirusak dengan bahasa campuran seperti Indonglish, kita menjadi bangsa yang gagap terhadap bahasa sendiri”. Hal ini tentunya menjadi pukulan tersendiri bagi bangsa ini yang sudah banyak kejadian merosotnya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar karena mereka lebih menyukai bahasa asing.
Dalam teori alih kode adalah peristiwa peralihan dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Sedangkan campur kode menurut Meyerhoff (2006) adalah kondisi dimana seorang penutur menggunakan lebih dari satu ragam bahasa di dalam sebuah kalimat atau klausa. Hal ini masih banyak dilakukan oleh pemuda yang menandai bahwa mereka lebih suka menggunakan kata-kata, istilah-istilah, dan ungkapan-ungkapan asing, padahal kata-kata, istilah-istilah, dan ungkapan-ungkapan itu sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia, bahkan sudah umum dipakai dalam bahasa Indonesia. Misalnya, page, background, reality, alternatif, airport, masing-masing untuk “halaman”, “latar belakang”, “kenyataan”, “(kemungkinan) pilihan”, dan “lapangan terbang” atau “bandara”.
Sebagai generasi penerus bangsa seharusnya kita sebagai pemuda patut berbangga hati karena bangsa ini memiliki bahasanya sendiri, tidak menginduk pada bahasa tertentu. Bahasa Indonesia harus dijaga dan dipelihara agar tidak tidak tergerus zaman dan serbuan bahasa asing. Walaupun usaha ini cukup sulit dilakukan karena gencarnya serbuan bahasa asing terutama yang didukung oleh penggunaan media teknologi. Baik kiranya jika kita mengadaptasi cara negara lain dalam melindungi bahasa mereka. Contohnya Di Thailand, Jerman, Perancis dan beberapa negara lain tayangan-tayangan seperti film, berita harus di alihbahasakan ke bahasa mereka. Di Thailand bahkan semua iklan juga diharuskan menggunakan bahasa Thai. Namun yang paling utama dari semua ini adalah dengan menumbuhkan kebanggaan berbahasa Indonesia. Dengan adanya kebanggaan berbahasa Indonesia maka kita akan memiliki kewaspadaan dan komitmen untuk melindungi dan menjaga kelestarian bahasa Indonesia. Walaupun berlajar berbahasa asing juga sangat penting untuk menghadapi pasar bebas tapi sebaiknya tempatkan berbahasa asing diwaktu yang tepat.
Perwujudan pemuda yang lebih bangga berbahasa Indonesia akan memberikan peluang yang besar dalam menjadikan sebagai bahasa ASEAN. Indonesia sudah memiliki pondasi yang kuat. Tinggal kini peran pemuda yang harus lebih aktif dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

ditulis oleh: Sukur Riswanto